Saya rasa perjalanan bermusik itu tidak selalu tentang membuat sesuatu yang baru. Kadang, yang paling berharga adalah bagaimana kita merangkul masa lalu, lalu membungkusnya dengan cara pandang yang lebih dewasa. Itulah yang sedang saya kerjakan sekarang bersama SAINORE.
Sedikit kilas balik. SAINORE yang sekarang adalah hasil metamorfosis dari SAINORE2. Nama itu mulai saya bentuk setelah saya benar-benar menyelesaikan studi D3 Analis Kesehatan. Saat itu, ada semacam dorongan dari dalam: "Saya sudah punya bekal hidup, sekarang waktunya serius bermusik."
Di fase kedua ini, posisi saya cukup unik. Saya tidak hanya menjadi bagian dari band, tetapi juga bertindak sebagai manajer sekaligus produser.
Dua peran yang awalnya sangat melelahkan, tapi sekarang justru menjadi kendali penuh atas arah suara SAINORE. Dan untuk memulai babak baru ini, saya memutuskan untuk tidak serta-merta membuat album baru. Saya memilih untuk kembali ke akar.
Project Remake: Album KISS
Mari kita lanjutkan project remake album SAINORE yang berjudul KISS.
Ya, KISS. Bukan ciuman dalam arti harfiah, tapi singkatan dari rasa. Di album mini ini, ada 5 lagu yang sudah mulai saya kirimkan ke radio-radio. Tapi jujur, memilih hanya 5 itu rasanya tidak adil, karena total ada 10 lagu dalam proyek KISS ini. Daftarnya begini:
- K.I.S.S (Ku Ingin Selalu Sayang) – ini adalah lagu payung yang menjadi jantung album.
- Kembalilah
- Mimpi yang Terlepas
- Tak Pantas Untukmu
- Ku Hanya Bisa
- Meylinda
- Gadis Dalam Cermin
- Dan Biarkan
- Rindu Terlarang
- KINI (Jangan Menangis) – ini yang saya kasih tanda #remake.
Kenapa saya memilih untuk me-remake album KISS? Karena lagu-lagu ini adalah catatan perasaan dari masa-masa transisi saya. Waktu saya baru lulus kuliah, banyak hal yang terasa mentah: patah hati, mimpi yang tertunda, rasa ragu menjadi musisi. Semua itu tertuang di sini.
Dengan teknologi rekaman yang lebih baik dan pengalaman hidup yang lebih tebal, saya ingin lagu-lagu ini didengar ulang. Bukan sekadar nostalgia, tapi agar pendengar baru bisa merasakan bahwa kesedihan dan cinta yang tak sampai itu tidak lekang oleh waktu.
Saya juga sengaja menulis label #minialbum, #sainore2, dan #imadalbadrawi untuk jejak digitalnya. Karena buat saya, #bandindie dan #bandindramayu bukan sekadar tag. Itu adalah identitas. Saya ingin orang tahu bahwa dari kota kecil seperti Indramayu, bisa lahir karya yang jujur.
Jadi, buat kalian yang dulu pernah mendengar versi lama dari lagu-lagu ini, atau yang baru pertama kali kenal SAINORE, saya cuma mau bilang: selamat datang di fase kedua. Rasa kami masih sama, tapi cara kami menyampaikannya kini lebih jujur.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "SAINORE Band Album KISS: Ketika Fase Kedua Dimulai dengan Rasa yang Dirilis Ulang"
Posting Komentar